Sekian tahun lamanya perjalanan menunaikan profesi guru bahkan bisa dibilang mendidik siswa hingga cucu,sejauh mana kita sebagai guru benar-benar profesional? Dalam arti ditinjau dari sudut pandang kualitas sejauh mana benar -benar jadi sosok idola contoh bagi siswa kemudian siswa bisa mengaplikasikan dalam hidup keseharian? Ini pertanyaan yang cukup dijawab dalam relung hati yang paling dalam untuk menoleh jauh ke belakang sebagai instropeksi diri.
Jika ditinjau dari segi finansial profesi guru sejak tahun 1970 era orde baru hingga masa reformasi belum bergaji standar. Baru berstandar "guru umar bakrie" tetapi jika pandai bersyukur harta kekayaan yang sesungguhnya ada dalam hati masing-masing guru bersifat relatif. Kekayaan sejati tidak jadi koruptor sehingga berkah , awet muda, bersih hati sanubarinya tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan dan terpancar dari pola pikirnya yang sederhana apa adanya tetapi dinamis mengikuti alur perkembangan jaman walau pelan-pelan asal selamat. Semua itu karena minim finansial dan keberanian memperjuangkan nasib. Kebiasaan takut intimidasi dari atasan kalau rewel akan dipindah tugas yang pelosok. Maka guru- guru SD merasa orang kecil lebih baik menjauhkan peribahasa "Si cebol merindukan bulan."
Hingga kini masa konfirmasi bagi profesi guru dengan adanya embel-embel sertifikasi guru dan dosen bagi yang belum merasakan tunjangan. Ya... baru tahap konfirmasi karena baru enak didengar saja. Sekian banyak baru menjalani penggodokan di kawah "condro dimuko" menyelesaiakan S1. Harap -harap cemas mudah-mudahan "kapal bengkah" masih ada dan kelak bisa ikut menikmati. Namun iri hati menyelimuti diri dan bertanya-tanya "Mengapa yang sudah menyandang gelar sertifikasi berikut gajinya lipat dua tetapi pola mengajarnya sama saja alias Aku masih seperti yang dulu.". Tidak ada kemajuan dan rasa malu yang meningkat hanya kehadirannya saja tidak pemalas seperti dulu. Tidak mau meningkatkan diri mengikuti majunya jaman. Banyak guru yang bersertifikasi masih terjangkit penyakit TBC=Tidak Bisa Komputer. Guru masih banyak yang malas untuk meningkatkan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar